Tradisi Kearifan Budaya Lokal di Gunungkidul Semakin Sakral, Budaya Adi Harus tetap Dijaga dan Dilestarikan

GUNUNGKIDUL (DIY) | matayogya.com – 2 Safar 1447 H, Perayaan Rasul Kalurahan Karangmojo diawali dengan kirab budaya serta kirab gunungan yang diikuti oleh 16 Padukuhan, dan disaksikan oleh seluruh kalangan masyarakat.

Diketahui, Sejumlah kesenian khas Gunungkidul turut meramaikan kirab, diantaranya bregada, reog, jathilan, hasil panen dan berbagai macam tari tradisional. Jumat, (27/7/2025) siang.

Kepada awak media Agus Budiyono mengatakan, tradisi rasulan adalah upacara adat tahunan yang dilaksanakan di Gunungkidul, Yogyakarta. Tradisi ini biasanya diadakan setelah panen raya, sekitar bulan Juni atau Juli, yang melibatkan seluruh warga masyarakat dalam berbagai kegiatan.

“Sebanyak 16 gunungan berisi hasil bumi juga diarak dalam kirab budaya menuju Balai Kalurahan,” ucap Lurah Karangmojo Agus Budiyono.

Baca Juga :  Gubernur DIY Resmikan Gedung IGD Dual Function di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Pakem

“Kegiatan Rasulan di Kalurahan Karangmojo dibiayai oleh Pemerintah Kalurahan tanpa memungut iuran dari warga,” tambahnya.

Diketahui juga, dalam Event Rasul Kalurahan Karangmojo dihadiri secara langsung oleh Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Chairul Agus Mantara, dan jajaran Forkompinkap Karangmojo.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, kegiatan Rasul bersama diadakan sejak 3 tahun terakhir semenjak ia menjabat sebagai lurah karangmojo. “Dulu belum pernah ada, tradisi rasul yang dulu diadakan di padukuhan-padukuhan masing-masing. Namun, saat ini alhamdullilah tradisi rasul bisa kita persatukan di tradisi rasul Kalurahan, dan tentu bersama sebagai wujud rasa syukur, serta kekompakan semua warga padukuhan bisa bersatu dan bersama menjaga adat tradisi nilai budaya,” jelasnya.

Baca Juga :  Kodim 0731/Kulonprogo Laksanakan Upacara Pemakaman Secara Militer Almarhum Veteran PKRI Suparmanto

Sementara itu, Endah Subekti Kuntrainingsih Bupati Gunungkidul sangat mendukung dan mengapresiasi tradisi Rasulan atau bersih desa yang merupakan bagian dari kearifan budaya lokal yang tetap sangat harus dilestarikan.

“Kita ada dana keistimewaan (Dais), dari salah satu event atau kegiatan semacam upacara adat nantinya bisa di support dari dana keistimewaan,” ucap Endah.

Endah mengatakan, selain menjaga tradisi kearifan budaya lokal, Rasul merupakan bagian dari gotong-royong, sodakoh yang dilakukan oleh warga masyarakat kepada sang pencipta. Beliau melihat Rasulan adalah sebagai tradisi yang memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomi yang tinggi, serta berperan penting dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan masyarakat Gunungkidul.

(redaksi.)

Related Post "Tradisi Kearifan Budaya Lokal di Gunungkidul Semakin Sakral, Budaya Adi Harus tetap Dijaga dan Dilestarikan"
MEMASUKI LIBUR NATARU; BEBERAPA BAHAN PANGAN ALAMI KENAIKAN TAJAM, SALAH SATUNYA DAGING AYAM DAN TELUR
Publik Saat Ini; Dilema etika Seputar Fotografi Jalanan dan Tugas Journalis
SALING LEMPAR BOLA PANAS, KASUS PENYELEWENGAN DANA DESA KALURAHAN NGUNUT: DANARTA SEBUT SEMUA PAMONG TERLIBAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!