

PASURUAN | matayogya.com – Ratusan warga Dusun Gunung Bukor, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Komando Latihan Tempur Marinir (Makolatmar) TNI Angkatan Laut. Aksi tersebut adalah tuntutan warga yang menolak pembangunan Batalyon 15 Marinir.
Aksi tersebut dilakukan pada Jumat, 14 November 2025, sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pembangunan Batalyon 15 Marinir yang lokasinya berdekatan dengan permukiman warga. Aksi tersebut di ikuti Ratusan warga Dusun Gunung Bukor, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.
Diawali Long March dan Poster Penolakan melibatkan
Ratusan warga Gunung Bukor berjalan kaki menuju pintu gerbang Makolatmar. Mereka membawa sejumlah poster yang berisi penolakan terhadap pembangunan tersebut.
Warga meminta agar Alat Berat di kembalikan ke kontraktor dan di keluarkan dari lokasi proyek pembangunan. Alat berat tersebut dikembalikan langsung kepada pihak Marinir sebagai simbol penolakan tegas.
Arif, salah satu koordinator aksi, menyatakan bahwa lokasi pembangunan Batalyon sangat berdekatan dengan permukiman warga. Warga khawatir akan keselamatan mereka, mengingat beberapa insiden sebelumnya seperti peluru nyasar, suara ledakan.
Arif menegaskan, “Karena kami masih ingat beberapa kejadian yang dialami warga. Kami masih trauma. Untuk itu, TNI AL mengkaji ulang terhadap pembangunan Batalyon 15,” ungkapnya.
Sementara itu, Eko Suryono, seorang anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, turut mendukung aksi warga. Sehubungan dengan ini pentingnya kehadiran pemerintah untuk memperhatikan kondisi warga. “warga memiliki hak untuk hidup tenang tanpa rasa khawatir,” ujar Eko.
Eko menambahkan, ia berharap kepada pemerintah pusat. “Kami meminta agar Presiden Bapak Prabowo memperhatikan nasib warga. Selama ini warga yang sudah lama tinggal dan juga membayar pajak. Biarkan kami juga bisa hidup tenang,” tegasnya.
Letkol. Mar. Alamsyah, Komandan Pusat Latihan Khusus Kolatmar, menjelaskan bahwa pembangunan Batalyon 15 merupakan program dari pemerintah pusat. Pihaknya menyatakan tidak akan melanjutkan proses pembangunan sebelum adanya dialog resmi dengan pemerintah daerah.
Letkol Alamsyah menambahkan, “Kami di sini hanya mengawasi, program pembangunan Batalyon 15 merupakan program dari pemerintah pusat. Semua aspirasi warga sudah kami sampaikan,” tegas Letkol Alamsyah kepada awak media.
Setelah mendapatkan penjelasan dari pihak Marinir serta akan adanya penghentian sementara proyek pembangunan Batalyon 15, massa akhirnya membubarkan diri. “Hingga saat ini warga masih menunggu agenda pertemuan bersama Bupati Pasuruan dan TNI AL untuk mencari solusi terbaik buat masyarakat pasuruan,” Pungkasnya.
Penulis: Ga_MY.
Editor: Redaktur.
Ikuti Saluran MY:
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7ZDWBHAdNVR2Jkqr14




