
NASIONAL | matayogya.com – Simbol misterius angka 1312 serta huruf ACAB di beberapa titik aksi demontrasi pada akhir-akhir ini menjadi perbincangan dikalangan masyarakat sipil. Banyak sekali kalangan masyarakat yang masih tidak mengerti apa arti dari simbol tersebut?, dan ditujukan kepada siapakah simbol tersebut?, terutama kalangan masyarakat desa. Sampai-sampai seluruh titik lokasi disetiap aksi demontrasi bertuliskan simbol angka 1312 dan ACAB.
Dengan penuh rasa penasaran serta ingin membantu menjawab kebingungan dan pikiran masyarakat terkait simbol tersebut, reporter matayogya.com mencoba untuk mencari informasi terkait arti, filosofi, dan sinopsis dari 1312 atau ACAB tersebut. Sekitar kurang lebih 1 jam melakukan pencarian dibeberapa jaringan internet, medsos, dan beberapa teman-teman, akhirnya kami berhasil mendapatkan jawaban tersebut.
Dikutip dari akun Tiktok @Viaso_rown, angka 1312/ACAB mempunyai makna yang tersirat didalamnya. 1312 adalah angka yang mewakili posisi huruf dalam alfabet: ACAB > A=1, C=3, A=1, B=2 (ACAB). Dijelaskan juga bahwa ACAB sendiri memiliki sebuah arti didalam bahasa inggris yang berbunyi “All Cops Are Bastards” yang sering sekali disalahartikan sebagai serangan pribadi terhadap polisi. Melainkan, arti tersebut adalah kritikan terhadap sistem kepolisiannya yang dianggap tidak adil dalam menindas. Arti tersebut juga jarang sekali dibahas pada media.

Mengingat Sejarah dibalik Simbol Perlawanan:
• Tahun 1920-an:
Muncul pertama kali di inggris sebagai simbol perlawanan kelas pekerja terhadap penegak hukum yang melindungi kepentingan kaum Elit.
• Tahun 1970-an:
Sangat populer dalam Gerakan Punk dan subkultur perlawanan di Eropa serta Amerika.
• Tahun 2010-an:
Menyebar secara Global melalui Gerakan Anti Penindasan seperti contoh Black Lives serta Protes Anti Otoritarianisme.
Diketahui, bahwa di Indonesia sendiri 1312 muncul sebagai konteks spesifik yang sangat berbeda pada Negara Barat. Reformasi Polisi, kritik terhadap dugaan penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan aparat yang hingga kini belum seluruhnya berubah sejak Era Reformasi. Penegakan Hukum, simbol kekecewaan terhadap ketidakadilan Hukum dan Dugaan “tebang pilih” dalam ketetapan Hukum. Ketimpangan Kekuasaan, Refleksi dari persepsi bahwa aparat lebih melindungi kepentingan Elit dari pada Rakyat biasa.
Pernyataan diatas bukan tentang Individual aparat melainkan sebagai Institusi. Penting dipahami, kritik ACAB lebih condong kepada Sistem Institusinya melainkan bukan pada Individual aparatnya. Banyak sekali aparat secara Individual adalah Orang baik yang tulus ikhlas didalam mengabdi tugas sebagai aparat Penegak Hukum. Namun, berbicara tentang Institusi, Sistem Kepolisian sering kali dikritik secara Struktur yang dianggap melindungi kepentingan Penguasa timbang pada Rakyat.

Kendati demikian, istilah 1312-ACAB mematik sebuah Kontroversi. Kesalahpahaman, banyak yang menafsirkan bahwa serangan personal terhadap Individual polisi, bukan melainkan kritik Sistem. Propaganda, sering digambarkan sebagai “Anti Negara” padahal bisa menjadi bentuk kepedulian pada perbaikan Sistem Negara. Polarisasi, perdebatan sering terjebak didalam narasi hitam-putih “mendukung polisi” atau malah “mendukung pengunjuk rasa”.
Melihat dari beberapa kekacauan aksi demontrasi yang terjadi, perlu dipahami, bahwa munculnya gejala kekacauan timbulnya masalah dari dalam.
Ketidakpercayaan, erosi kepercayaan Publik terhadap Institusi Penegak Hukum akibat Kasus-Kasus pelanggaran HAM serta Korupsi yang tidak terselesaikan. Ketimpangan Akses, persepsi bahwa Hukum hanya tajam kebawah melainkan tumpul keatas. Saluran Demokrasi, protes menjadi pilihan terakhir ketika Saluran Aspirasi Formal dianggap tidak Efektif atau Responsif.
Melihat dari berbagai kekacauan yang terjadi di Negeri kita tercinta, kita dapat melihat pelajaran yang terjadi di Negara lain. Norwegia, Polisi tanpa senjata api serta mengedepankan pendekatan Komunikasi Mediasi. Jepang, Sistem Korban atau Pos Polisi Komunitas yang menekankan hubungan dekat kepada Warga. Kanada, Reformasi protokol penanganan Demontrasi yang mengedepankan de-eskalasi ketegangan.
Sebelum kita menghakimi simbol angka 1312 dan huruf ACAB, sampailah pada pertanyaan untuk kita semua.
• Apakah sistem Keadilan kita sudah benar adil?
Jawabannya: Apakah semua warga Negara akan mendapatkan perlakuan yang sama dimata Hukum?
• Bagaimana kita bisa memperbaiki Sistem?
Jawabannya: Apakah kritik keras seperti “ACAB/1312” dapat menjadikan titik awal untuk dialog yang Efektif, atau hanya menghancurkan kedua belah pihak saja?
• Siapa yang paling bertanggungjawab?
Jawabannya: Seluruh pihak bertanggungjawab atas Sistem, termasuk kita. Namun, andil kita sangatlah kecil sehingga perlu adanya persatuan dan kesatuan.
Dari berbagai Arti, Filosofi, Sinopsis, dan Opini diatas, kita haru dapat memahami Kritik untuk Membangun Dialog. Simbol “1312/ACAB” bukan hanya soal Pro dan Kontra Polisi, namun, ia adalah Refleksi Keresahan Sosial yang perlu kita pahami bersama. Kritik yang sehat adalah bagian penting dari Demontrasi yang Dewasa. Mari bergerak bersama melampaui Polarisasi dan Membangun Dialog secara Kondusif untuk Indonesia yang Adil dan Lebih Baik.
(redaksi.)




